8:00AM - 6:00PM
Senin hingga Sabtu
Di banyak perusahaan, HR masih terjebak dalam paradoks: diminta menjadi strategic partner, tetapi diposisikan sebagai administrative support. Di ruang rapat, HR diminta berbicara tentang budaya, produktivitas, dan sustainability. Namun dalam praktik, yang ditanya tetap seputar absensi, payroll, dan kontrak kerja.
Masalahnya bukan sekadar persepsi, tetapi cara organisasi melihat fungsi HR. Selama HR hanya dilibatkan di hilir—saat masalah muncul—maka perannya tidak akan pernah strategis. HR baru dipanggil saat karyawan resign, konflik memanas, atau produktivitas menurun. Padahal, seharusnya HR hadir di hulu: dalam perencanaan, struktur organisasi, dan strategi bisnis.
Menjadi HR strategis bukan soal jabatan, tetapi soal posisi dalam pengambilan keputusan. HR harus memahami bisnis, bukan hanya manusia. Harus mampu membaca data, bukan hanya perasaan. Harus berani berbicara, bukan hanya mengikuti.
Pertanyaannya sederhana: apakah HR di perusahaan Anda sudah duduk di meja strategi, atau masih berdiri di belakang membawa dokumen?
